Kosmologi Hati: Dimensi Ibadah antara Ruang-ruang Perasaan Alamiah Manusia
Menghadiri majelis yang di dalamnya terdapat KH. Dr. Muhammad Lingga Muttaqin, Lc., M.A., sebagai pembicara, selalu memaksa kita untuk tidak pulang dengan tangan hampa. Setiap ucapan yang datang dari kalam beliau selayaknya bingkisan; yang amat sayang untuk ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja. Mungkin begitulah tabiat dari seorang berilmu; yang ada dalam kalam beliau hanyalah hikmah.
Hikmah itu kembali kita dapatkan dalam khutbah Jum'at (21/11). Tema yang beliau angkat kali itu adalah tentang ibadah hati.
Khutbah beliau awali dengan penjelasan mengenai tujuan di balik penciptaan manusia. Bersandar pada pendapat ulama, beliau menyampaikan bahwa ibadah merupakan salah satu dari tiga tujuan penciptaan manusia, selain memakmurkan bumi, dan membersihkan diri.
Terkait ibadah, beliau memiliki pandangan lain daripada yang lain. Beliau menolak anggapan awam bahwa ibadah hanya terbatas pada sesuatu yang dhohir, yang nampak tindak-tanduknya.
Ibadah konvensional semacam salat, puasa, haji, dsb, merupakan hal yang lumrah diketahui sebagai cara mendapat pahala. Namun, hal baik yang bersumber dari hati, sesuatu yang tersembunyi dan hanya kita yang mengetahui, bisa memiliki impak yang lebih besar dalam jalan pencarian ridho Allah SWT.
Ibadah hati seperti iman, tawadhu', berprasangka baik, dsb, kadangkala memang sering diremehkan. Maka tak heran kemudian banyak orang yang terjerumus melakukan dosa-dosa sepele tanpa disadari, sebagai misal; mencuri. Mengapa demikian? sebab hatinya sudah tertutup noda-noda hitam, dan dosa-dosa sudah menjadi sesuatu yang lumrah.
Fenomena demikian banyak kita temukan dewasa ini. Lalu, jika kita menoleh ke belakang, akan semakin gelap pandangan kita lantaran maraknya hal tersebut di masa lalu.
Maka tak ayal, berabad-abad berlalu, kisah tentang kebaikan dan keburukan hati yang dapat mengubah benang takdir bertebaran di banyak literatur, serta meloncat gesit dari satu lisan ke lisan lainnya. Untuk apa? untuk menjadi peringatan, dan pelajaran yang perlu diwariskan pada tiap generasi, agar kejayaan silam bisa tercapai kembali, dan kehancuran masa lalu tidak bereinkarnasi lagi.
Akhir kalam, dimensi hati memang begitu sukar diraba, bahkan oleh akal manusia. Dan dari itu semua, Allah-lah yang menguasai ilmu tentangnya. Namun yang pasti, kita sebagai manusia hendaknya selalu berikhtiar agar cinta kepada Allah dan rasul-Nya terus menyala. Sebab, pada kedua cinta itulah, terdapat petunjuk yang menuntun hati dan tindak-tanduk agar selalu berada di jalan mustaqim, sebagaimana yang termaktub dalam kutipan hadits riwayat Bukhori:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
Artinya: “Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai.” Tabik.(Zeal)
Comments
Sign in with Google to leave a comment
No comments yet. Be the first to share your thoughts!