Buku Harian dan Puisi-Puisi Pilihan Santri Ibnu Hafidz 2
Buku Harian
Jibraeel Azad
Waktu menunjukkan pukul dua siang
di mana anak-anak bermain tanpa memikirkan hal-hal yang membuat mereka merasa bingung.
Aku duduk terpaku di kursi sisi taman
dengan memegang sebuah buku harian
sembari memegang sebuah pena, tanpa sadar aku menulis sesuatu
sesuatu, yang tak pernah kupikirkan sebelum itu
aku tidak tahu apa yang sedang aku tulis itu
aku merasa tangan mengendalikan diriku
Tanganku menari-nari di atas sebuah buku
aku dan bukuku seperti seorang sahabat
selalu bersama di mana pun diriku
tanpa sadar tanganku berhenti menulis
menciptakan sebuah karya
yang ku tak tau betapa nilainya.
mungkin orang-orang melihat karyaku sebelah mata
namun bagiku, itu sesuatu istimewa
Subang, 2025
*Jibraeel adalah santri kelas 7 B asal Subang.
Buku Impian
Keanu Anon Setyo Al-Ghozaly
Aku ingin menjadi buku impian yang dapat menolong orang lain dengan halaman-halamanku yang penuh solusi pemecah masalah seseorang.
Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain seperti buku yang membawa manfaat bagi orang lain dapat menolong, mengajarkan kepada orang yang kesusahan dalam menghadapi masalah dan ingin membuat pembaca dapat menyelesaikan/merasakan ilmu.
Subang, 2025
*Keanu adalah santri kelas 7 C asal Klaten.
Tembok-tembok Pondok yang Menahan Tangis
Azka Maulana Yusuf
Tembok-tembok pondok itu berdiri tinggi,
seolah tahu betapa seringnya aku
menyembunyikan air mata di balik diam.
Di antara dinding-dinding itu,
aku belajar merindukan rumah
tanpa bisa pulang kapan pun mau.
Setiap malam,
angin yang lewat membawa kenangan,
dan tembok itu jadi saksi
betapa beratnya rindu yang kutelan sendiri.
Kadang aku memejamkan mata keras-keras,
berharap suara ibu menembus batu,
tapi yang terdengar hanya gema hatiku sendiri.
Ada hari ketika langkahku gemetar
bukan karena lelah belajar,
tapi merasa sendirian
di tempat yang mengajarkan kekuatan.
Tembok-tembok itu
yang tampak kokoh dari luar,
di dalamnya menjadi tempat
aku merapuhkan diri pelan-pelan.
Namun entah bagaimana
di balik semua kelam itu
aku tetap bangun setiap hari
tetap melangkah meski berat
seolah tembok-tembok itu
meminjamkan keteguhan
yang tak mampu kubuat sendiri.
Dan suatu hari nanti
ketika aku akhirnya pergi,
aku tahu:
ada bagian dari diriku
yang sengaja tertinggal di sana
di antara batu-batu besar pondok
yang pernah menahan tangisku
lalu mengubahnya menjadi kekuatan.
Subang, 2025
*Azka adalah santri kelas 8 A asal Subang.
Comments
Sign in with Google to leave a comment
No comments yet. Be the first to share your thoughts!