Sungai Yangtze 1931

(1)

Sekali-kali kau pun tahu bahwa dirimu terbikin dari kehendak Kuasa. Ketika selepas musim dingin, dan tanah masih menggigil, langit tanpa rencana, mengeramasi bulu matanya yang beku, di antara gemulai pinggul bukit-bukit menjulang. Kau tahu bahwa kau akan menjadi jigangbei yang tak bisa lagi menampung kehidupan.


(2)

Dan kota-kota akan menutup riwayatnya suatu hari. Mereka akan terkubur di bawah lengan-lengan airmu sebagai nisan. Lalu, sekawanan burung bangkai membuat pertunjukan. Mereka berpesta seperti sekerumunan hitam malaikat pencabut nyawa. Berkoak-koak, membiarkan jasad-jasad tanpa nama kembali mencicipi azali.


(3)

Di punuk bukit-bukit yang ketiban beban beribu nyawa, tak ada ditemukan paras mentari pagi. Di tengah kepungan tubuhmu yang mekar sejuta riak itu, ratusan bukit meregang nyawa berkali-kali, diamuk kolera, malaria, dan putus asa.


(4)

Jauh di Wuhan, prajurit kuomintang yang tak tahu asin air mata, menciptakan genosidanya sendiri. Tubuhmu yang keruh berlumur lumpur sengsara, kini dihiasi corak-corak sangria. 


"Terkutuklah semua yang mengaku dewa, mereka yang menjadi berhala tanpa detak dada. Dan o, jiwa-jiwa tenggelam, rumah bagi lotus bersemayam, moksalah kalian tanpa menanggung dendam; ia yang menggumpal dan berbau bangkai."


(5)

Luka raya itu timbul-tenggelam di arus keruhmu yang tabah menyimpan pelbagai kesah. Sesuatu yang menyerupai kesendirian, menyeruak dari hulu, mengentalkan warna kehilangan; kusam dan muram.


Namun, antara Dangqu hingga Jiangsu, wajah-wajah jelita berona delima bermunculan, serupa meriah konstelasi bintang di awang awang, serupa semarak lampion China di sudut kota, selalu berhasil pudarkan jelaga malam yang mendekam di dadamu.  


Sumenep, 2025


Note:

  • Puisi ini telah dimuat di Tempo pada 8 Februari 2025
  • Puisi ini berkisah tentang tragedi banjir bandang sungai Yangtze tahun 1931. Bencana terjadi selepas musim dingin, mengubah daratan hampir seukuran pulau Jawa menjadi hamparan segara. Bersama itu, rebak kelaparan, malaria, dan penyakit lainnya. Dan di Wuhan, perseteruan dengan pasukan komunis membuat pasukan kuomintang menembaki para penyintas. Mereka khawatir di antara penyintas itu ada satu-dua mata-mata komunis.


Fathurrozi Nuril Furqon

Fathurrozi Nuril Furqon

GURU FORMAL

Writer and contributor at our platform. Passionate about sharing knowledge and insights with our readers.