Deux Frères

(1)

Musim panas terbunuh dalam lanskap dadamu

Seperti langit yang memecahkan sayapnya jadi partikel debu

Sepasang wajah menjelma potret kenangan di dinding sarang

Sebab kokang senjata, merah luka, aroma mesiu

Telah menjadikan rahimmu, purnama tanpa binar

 

Gelap datang seperti mendung tak diundang

Hujan tiba, ombak pasang di mata

Basah merayap;

Entah datang dari langit lunglai

Atau dari wajahmu yang hampir padam

 

(2)

Sepasang harimau tak lagi muda, Kumal dan Sangha

Memantulkan luka yang bermukim di mata

Bertanya; luka siapa lebih pekat hemoglobinnya?

 

Di balik jeruji, antara pecut yang bergerak

Bagai lesat cahaya dari perut cumulus nimbus

Waktu membesarkan keduanya dengan rindu bau berak

Rindu yang menculik masa kanak

Memisahkan mereka dari keramahan pohon trembesi;

Belaian ibunda yang kini samar rupa

 

Ada sebuah mufakat tumbuh tiba-tiba

Seperti dua akar yang memutuskan saling ikat

Atau tangan yang akhirnya saling genggam

 

Keduanya berlari, dan berlari

Meninggalkan timbunan luka

Yang disuguhkan manusia

Mencari jalannya sendiri

 

(3)

Sepasang harimau terus berlari

Menjelajahi jejak masa lalu yang terkubur waktu

Jauh di sana, muasal penciptaan kelahiran

Sendiri diamuk gulana yang hampir baka

 

Hutan tenggelam dalam hampa

Kelam bersama luka yang samsara

Paras ibunda, o, berdenyar terancam binasa

 

Keduanya berlari

Berlari

Terus berlari

Di ujung hari

Rindu meretakkan diri

Di tiga pasang bola mata 

Sumenep, 2025

 

Note:

  • Puisi ini adalah Juara Favorit (Juara Harapan 1) lomba puisi nasional tingkat umum 2025 yang diadakan Funbahasa
  • Deux Freres (Two Brother): judul film tentang dua ekor anak harimau yang diambil manusia dan berusaha kembali ke tanah kelahirannya ketika dewasa.
Fathurrozi Nuril Furqon

Fathurrozi Nuril Furqon

GURU FORMAL

Writer and contributor at our platform. Passionate about sharing knowledge and insights with our readers.