Moksa dan Puisi Lainnya Karya Santri Ibnu Hafidz

Moksa

Oleh: M. Rafhan Ilyas

Tubuhku terbujur kaku

Bentuk malang melintang

Tertutup mataku

Namun cahaya semakin terang


*Rafhan adalah santri kelas 8B.


Hari dan Sebuah Puisi

Oleh: Latif Sufi Madinah

Kecerahan pagi oleh mentari

Membangunkan wajah-wajah berseri

Dan diikuti awan-awan

Di langit luas mereka beterbangan

Lalu matahari ditenggelamkan

Memancarkan warna jingga kemerahan

Seperti mengatakan bahwa akhir tidak selalu menyedihkan

Lalu datanglah rembulan

Dengan malam yang menenangkan

Diikuti bebintang

Membuat malam sunyi dan tenang

Di langit disinari rembulan

Di bumi disinari lampu jalan

Di situlah kududuk sendiri

Dengan secangkir kopi

Sambal mencari-cari inspirasi

Untuk memikat sebuah hati


*Sufi adalah santri kelas 8A.


Pada Pandang Pertama

Oleh: Kiandra AP

Di suatu tempat yang kosong nan sunyi

Di tempat rembulan menyinari bumi

Seseorang dengan hati yang dalam tak terisi

Berdiri sendiri di atas muka bumi

Telah ia tinggalkan dunia yang fana

Namun muncul perasaan tak terduga

Yang tak dapat diartikan dengan kata-kata

Perasaan layaknya senang dan bahagia

Namun dibungkus rasa suka dan cinta

Perasaan ini dipicu seorang wanita

Yang muncul di dunia fana

Wanita yang kutemui di stasiun kereta

Saat itu dan pada pandangan pertama

Aku mulai menyadari kalau aku mengaguminya


*Kiandra adalah santri kelas 8A.


Jalan Waktu

Oleh: Faiz Al-Aqil

Seseorang meninggalkan pesta

Dan dia meninggalkan kata

Lalu dia menghitung lampu kereta

Ia bingung tidak bisa berkata apa-apa

Ia telah pergi meninggalkan fana

Lalu ia kembali ke kota ini

Melihat selembar puisi

Di halaman sunyi

Dan ia kembali mengingat saat dahulu di sini

Di kota ini, tak ada lagi kereta beroperasi


*Faiz adalah santri kelas 8A


Biru Samudra

Oleh: Azka Maulana Yusuf

Hamparan cantiknya birumu

tak tertandingi, sepoi-sepoi

rayuanmu selalu membisik di

hatiku. Kemana pun kakiku

melangkah, biru Samudra

Indonesiaku selalu bawaku

kembali.


*Azka adalah santri kelas 8A.


Kontemplasi

Oleh: Ust. Fathurrozi Nuril Furqon

Titian demi titian, warna-warna berlalu

Semakin mengentalkan suram

Yang halimun di lereng mataku


Berjalan ke depan, tanah telanjang

Rumput gatal menari bagai biduan

Spiral berputar-putar

Merangkum wajah masa depan


Antara kemungkinan berpendar-pendar

Seekor burung yang terbang di ruang samar itu

Mengepak tenang di tengah rimbun awan

Subang, 2026

*Puisi ini telah dimuat di Kompas pada 08 Februari 2026.

Fathurrozi Nuril Furqon

Fathurrozi Nuril Furqon

GURU FORMAL

Writer and contributor at our platform. Passionate about sharing knowledge and insights with our readers.